Ekonomi Islam

Sumber Daya Alam di Era Khilafah

By |2020-09-06T09:15:57+08:0028 Agustus 2020|Artikel|

Sumber daya alam (SDA) adalah potensi sumber daya yang terkandung di dalam bumi, air, maupun di udara. Di dalam al-Qur’an disebutkan bumi sebagai tempat tinggal manusia, langit sebagai atap dan air hujan yang turun serta buah-buahan sebagai rezki untuk manusia. Di dalam al-Qur’an juga ditegaskan, bahwa Allah telah menjadikan segala apa yang ada di bumi untuk manusia. Dengan demikian, SDA berfungsi sebagai sarana untuk menunjang kehidupan manusia di dunia sekaligus menjadi sumber penghidupan mereka.
Fungsi SDA ini sejak dulu hingga sekarang tidak berubah. Hanya saja karena peran vitalnya bagi kehidupan manusia, SDA dapat menjadi sumber konflik. Bahkan lebih dari itu, suatu negeri yang memiliki kekayaan alam yang melimpah dapat mengundang perhatian dan invasi dari bangsa yang tamak untuk menguasainya.

Konsepsi Ekonomi Islam untuk Pembangunan

By |2020-08-16T23:52:34+08:0016 Agustus 2020|Artikel|

Konsepsi ekonomi Islam berbeda dengan konsepsi ekonomi Kapitalis atau yang biasa disebut dengan ekonomi konvensional. Perbedaan itu tidak hanya mengacu pada aspek akidah atau asas, tetapi juga meliputi standar nilai, dan metode untuk mengaplikasikannya.

Konsepsi ekonomi Islam mengacu pada syariah yang menjadi aturan agama kita. Sebab setiap perbuatan manusia termasuk kebijakan ekonomi dan pembangunan, serta aktivitas ekonomi masyarakat harus terikat hukum syara’

Bagaimanakah Ekonomi Islam Mensejahterakan Dunia?

By |2020-04-27T15:41:50+08:0027 April 2020|Artikel|

Ini adalah reposting tulisa lama, lebih dari satu dekade yang lalu di website saya Jurnal-Ekonomi.org. Dalam artikel ini, Islam mensejahterakan dunia melalui (1) penerapan mata uang syar'i, yaitu berbasis emas dan perak, (2) memajukan sektor riil yang tidak eksploitatif, (3) menciptakan mekanisme pasar internasional yang adil, dan (4) mengemban misi kemanusiaan.

Membangun Ekonomi Rumah Tangga Islami

By |2020-04-04T21:54:19+08:0026 Maret 2020|Artikel|

Setiap pasangan suami istri tentu menginginkan hubungan yang harmonis, tenteram, dan sejahtera dalam ikatanmawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang) sehingga dalam rumah tangganya tercipta baiti jannati (rumahku surgaku). Salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam mewujudkan baiti jannati adalah terpenuhinya nafkah keluarga terutama yang berkaitan dengan kebutuhan pokok. Tidak terpenuhinya kebutuhan mendasar bagi keluarga, seperti rumah, sembako, pakaian, pendidikan, dan kesehatan dapat menimbulkan keresahan di dalam keluarga tersebut yang selanjutnya dapat menjadi pemicu keretakan rumah tangga.

Go to Top