Swedia “Korban” Herd Immunity

Oleh: Hidayatullah Muttaqin

Swedia, negara skandinavia dengan tingkat kesejateraan yang cukup tinggi adalah sedikit di antara negara-negara di dunia yang memilih opsi herd immunity atau kekebalan kelompok dibandingkan melakukan lockdown atau karantina. Langkah Swedia membuahkan hasil negatif, yaitu tingginya jumlah warga yang terinfeksi dan melonjaknya angka kematian. Seperti terlihat pada grafik ini, tren akumulasi kasus positif Swedia cenderung menanjak meskipun bukanlah yang tertinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya dalam grafik tersebut.

Jika kita bandingkan dengan Qatar, negara kecil ini memiliki kasus lebih tinggi dari Swedia tetapi jauh lebih rendah tingkat kematiannya. Jumlah kasus di Qatar per 31 Mei 2020 sudah mencapai 55 ribu orang dengan angka kematian hanya sebesar 36 jiwa. Kasus positif di Swedia lebih rendah, yaitu sekitar 37 ribu orang yang positif terpapar Covid-19 tetapi tingkat kematiannya sangat tinggi yakni sebesar 4.395 kasus.

Jika dibandingkan dengan Bangladesh, kasus di negara Asia Selatan ini lebih tinggi, yaitu sebanyak 44 ribu orang lebih yang dinyatakan positif Covid-19. Tetapi angka kematian di Bangladesh adalah 610 kasus, masih lebih kecil dari Swedia. Di sisi lain Bangladesh adalah negara berkembang yang cukup miskin, kepadatan penduduknya sangat tinggi dengan populasi 15,8 kali lipat jumlah penduduk Swedia. Sedangkan tingkat kesejahteraan ekonomi Swedia jauh lebih bagus dari Bangladesh, di mana PDB perkapita Swedia mencapai lebih dari 32 kali lipat PDB perkapita Bangladesh.

Perbandingan apple to apple adalah dengan negara skandinavia lainnya, yaitu Denmark dengan populasi setengah dari jumlah penduduk Swedia. Jumlah kasus positif Swedia sebanyak 3,2 kali lipat dari Denmark. Sedangkan tingkat kematian Swedia sebesar 7,7 kali lebih besar dari jumlah kematian Covid-19 di Denmark.

Dengan menerapkan herd immunity, Swedia mengorbankan para lansia dan penduduk yang tingkat kesejahhteraan ekonominya berada pada strata paling bawah, yaitu para imigran. Pemerintah Swedia sendiri memilih opsi ini demi pertimbangan tetap berjalannya kegiatan ekonomi dengan persyaratan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah tinggi.

Langkah Swedia ini mirip dengan kebijakan yang ditempuh oleh Brazil. Bedanya Brazil adalah negara dengan populasi besar, kepadatan penduduk tinggi di daerah perkotaan, kondisi ekonomi lebih buruk dan tingkat ketimpangan ekonomi tinggi, serta kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah tidak sebaik di Swedia. Persamaannya, kedua negara tersebut mengalami ledakan wabah Covid-19 baik dari sisi jumlah warganya yang positif terpapar maupun maupun tingginya angka kematian.

Dengan pengalaman Swedia tersebut, apakah Indonesia mau meniru langkah herd immunity dengan kemasan the new normal? Perlu dipahami, para epidemiolog menekankan penerapan herd immunity adalah sangat berbahaya. Penerapan yang benar adalah dengan dilakukannya vaksinasi kepada seluruh penduduk. Tapi permasalahannya adalah belum ada vaksin untuk Covid-19. Permasalahan lainnya masyarakat kita tidak seluruhnya well-educated dan tidak sepenuhnya patuh dengan himbauan pemerintah. [Muttaq.in]