NAVIGASI

Komentar di media

GRAFIK

INFOGRAFIS

Hidayatullah Muttaqin

Berdasarkan data BPS, perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan II 2020 (YoY) mengalami kontraksi sebesar -2,6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019. Kedalaman kontraksi perekonomian Kalsel ini masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan negatif yang dialami perekonomian nasional, yaitu sebesar -5,3 persen. Sementara seluruh provinsi di Indonesia, kecuali Papua dan Papua Barat, mengalami pertumbuhan negatif. DKI Jakarta, Bali, Banten, DIY Yogyakarta, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Kalimantan Timur merupakan provinsi dengan kontraksi paling dalam di bawah -5 persen.

Jatuhnya perekonomian Kalsel pada triwulan I ini adalah hal yang tidak dapat dielakkan. Karena pandemi Covid-19 tidak hanya membuat roda perekonomian mengalami kemacetan di Kalimantan Selatan, tetapi juga terjadi hampir di seluruh belahan dunia. Virus Corona (SARS-CoV-2) yang ukurannya sangat kecil ini dalam waktu singkat menyebar dan menggerogoti kesehatan masyarakat dan juga pertumbuhan ekonomi.

Peta Pertumbuhan Ekonomi Q2 2020 Provinsi di Indonesia

Peta Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Q2 2020 (Sumber data: BPS, diolah, Muttaq.in)

Suramnya Harga Batubara

Pada triwulan II ini, sebagian besar sektor perekonomian Kalsel pertumbuhannya mengalami kontraksi akibat digerogoti pandemi COVID-19. Termasuk tiga sektor ekonomi paling besar yang nilainya hampir setengah dari nilai PDRB Kalsel, yaitu pertambangan, pertanian dan industri juga mengalami pertumbuhan negatif. Bahkan sektor pertambangan memberikan sumbangan sebesar -1,5 persen dari -2,6 persen pertumbuhan Kalsel.

Sektor pertambangan KalseL sendiril sudah mengalami pelambatan sejak triwulan I 2019. Bahkan pada triwulan IV, pertumbuhan sektor ini minus 1,5 persen meskipun sempat rebound ke 0,1 persen pada triwulan I 2020. Dengan pertumbuhan -6,0 persen, peranan sektor pertambangan dalam perekonomian Kalsel mengalami penyusutan sebesar -2,2 persen dibanding triwulan I 2020.

Suramnya sektor pertambangan tidak lain adalah akibat jatuhnya harga batubara di pasar internasional. Berdasarkan harga acuan batubara yang dirilis oleh Kementerian ESDM, nilainya mencapai USD 108 per ton pada Agustus 2018. Harga batubara kemudian terus menggelinding ke bawah hingga USD 50 per ton pada Agustus 2020.

Pertumbuhan Sektor Ekonomi Kalsel Q1 2020 (https://Muttaq.in)

Pertumbuhan sektor ekonomi Kalsel Q2 2020 (Sumber data: BPS Kalsel, diolah, Muttaq.in)

Keterkaitan Batubara dan Minyak

Pergerakan harga batubara sangat terkait dengan perkembangan harga minyak dunia, karena batubara adalah substitusi minyak. Dalam 5 tahun terakhir harga minyak mentah WTI berada di puncak tertinggi pada awal Oktober 2018, yaitu sebesar USD 74 per barel. Setelah itu harga minyak mentah secara gradual mengalami penurunan. Bahkan pada bulan April harga WTI sempat berada pada posisi minus. Saat ini harga minyak mentah WTI nilainya sekitar USD 43 per barel.

Tekanan Ekonomi Global dan Pandemi Covid-19

Kejatuhan harga minyak dan batubara adalah akibat terjadinya pelemahan permintaan global. Pertumbuhan ekonomi dunia sudah mulai melambat pada tahun 2018 hingga 2019 yang salah satu sebab utamanya adalah karena terjadinya perang dagang AS-China. Adapun pada tahun pandemi ini, pertumbuhan ekonomi dunia akan semakin suram. IMF (2020) dalam World Economic Outlook memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan terkontraksi sebesar -4,9 persen sedangkan Bank Dunia (2020) dalam World Economic Prospects mematok angka -5,2 persen untuk pertumbuhan 2020.

Proyeksi kontraksi ekonomi global tersebut jelas merupakan sebuah warning bahwa harga batubara yang menjadi komoditas primadona Kalsel mungkin akan masih menggelinding ke bawah. Artinya perekonomian Kalsel belum dapat lepas dari tekanan jatuhnya harga batubara pada dua triwulan berikutnya.

Besarnya efek penurunan harga batubara global terhadap perekonomian Kalsel disebabkan dominannya komoditi tambang ini dalam struktur ekspor dan besarnya nilai sektor pertambangan dalam PDRB. Sementara peranan ekspor impor Kalsel dalam PDRB pada triwulan II 2020 mencapai 98 persen sedangkan pada perekonomian nasional hanya 31 persen saja. Ini artinya tingkat keterbukaan perekonomian Kalsel terhadap perekonomian global hampir mencapai 100 persen. Akibatnya, perekonomian Kalsel lebih rentan terhadap pengaruh gejolak ekonomi global dibanding perekonomian nasional.

Perkembangan nilai ekspor (USD Juta) bahan bakar mineral Kalimantan Selatan tahun 2020

Perkembangan ekspor bahan bakar mineral Kalsel tahun 2020 (Sumber data: BPS Kalsel, diolah, Muttaq.in)

Transformasi Ekonomi

Meskipun sektor pertambangan suram, hendaknya ini menjadi motivasi bagi Kalsel untuk segera meletakkan fondasi transformasi ekonomi. Kalsel harus merubah ketergantungan pada sumber daya alam menuju perekonomian yang mengandalkan sumber daya manusia dan teknologi. Ini tidak mudah dan pencapaian hasilnya adalah dalam jangka panjang.

Mengapa Kalsel harus melakukan transformasi ekonomi? Selain karena faktor yang dihadapi saat ini, ada tiga alasan utama Kalsel harus meninggalkan pertambangan. Pertama, indeks harga komoditi barang tambang cenderung menurun dalam jangka panjang. Karenanya, suatu daerah atau negara yang bergantung pada sektor pertambangan cenderung mengalami kerugian.

Kedua, lapangan kerja yang tercipta di sektor pertambangan secara proporsional cukup rendah. Pada Februari 2020, sektor pertambangan hanya menyerap 4,5 persen tenaga kerja. Saat harga “boom”, maka pertumbuhan di sektor pertambangan akan mendorong ketimpangan ekonomi yang lebih tinggi.

Ketiga, eksploitasi tambang memiliki kaitan erat dengan degradasi lingkungan hidup dan kerusakan hutan lindung. Eksploitasi yang semakin masif untuk meningkatkan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi akan menyebabkan semakin tingginya laju degradasi lingkungan dan meninggalkan warisan yang sangat sedikit bagi generasi penerus.

Kejatuhan harga batubara memang agak menyakitkan bagi perekonomian Kalimantan Selatan. Tetapi momen ini harus menjadi motivasi agar Kalsel segera melakukan transformasi ekonomi. Di sisi lain kondisi ini juga menjadi berkah tidak terduga (blessing in disguise) untuk menghentikan laju kerusakan lingkungan. [Muttaq.in]

Hidayatullah Muttaqin adalah dosen Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan dan anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan COVID-19 ULM.

Published On: Agustus 25th, 2020Tags: , ,

INFO COVID-19