NAVIGASI

Komentar di media

GRAFIK

INFOGRAFIS

Hidayatullah Muttaqin

Oleh: Hidayatullah Muttaqin

 

Jumlah kasus positif Covd-19 di Indonesia sudah lebih dari 315 ribu di mana jumlah kematian sudah berlari di atas 10 ribu. Namun ada sisi yang menggembirakan dari perkembangan Covid-19, yaitu semakin bertambahnya pasien yang sembuh dari Covid-19.

Membaiknya Angka Kesembuhan

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kawalcovid19.id, per 7 Oktober 2020 jumlah akumulasi pasien Covid-19 yang mendapatkan kesembuhan sudah mencapai lebih dari 240 ribu orang. Ini artinya dibandingkan dengan jumlah kasus terinfeksi Covid-19, tingkat kesembuhan atau case recovery rate nasional sudah mencapai 76,1 persen, naik sebanyak 1,2 persen dibandingkan tingkat kesembuhan pada 30 September yang lalu. Angka ini juga jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi pada akhir Juni dan Agustus yang lalu, di mana tingkat kesembuhan masing-masing baru mencapai 44,0 persen dan 72,1 persen.

Pada tingkat provinsi, daerah yang paling tinggi tingkat kesembuhan Covid-19 per 7 Oktober adalah Kalimantan Utara 88,8 persen, kemudian Maluku Utara 88,2 persen, Kalimantan Selatan 86,3 persen, Jawa Timur 85,8 persen, dan Bali 84,9 persen. Secara keseluruhan ada 11 provinsi dengan tingkat kesembuhan 80 persen ke atas dan 205 kabupaten dan kota.

Sedangkan daerah dengan tingkat kesembuhan paling rendah Jambi adalah 45,3 persen, Papua Barat 54,5 persen, Sulawesi Barat 55,5 persen, Sumatera Barat 55,7 persen, dan Papua 57,0 persen. Ada 14 provinsi dan 199 kabupaten dan kota dengan tingkat kesembuhan di bawah 70 persen. Bahkan ada 86 kabupaten dan kota yang angka kesembuhannya masih 50 persen ke bawah.

Peta Tingkat Kesembuhan Covid-19 pada Tingkat Provinsi per 7 Oktober 2020

Peta: Muttaq.in – Sumber data: Kawalcovid-19 (diolah)

Pada umumnya, daerah dengan tingkat kesembuhan rendah mengalami pertumbuhan kasus baru yang cukup tinggi. Misalnya pertumbuhan kasus baru Jambi, Papua Barat, dan Sulawesi Barat pada 7 hari pertama bulan Oktober dibandingkan jumlah kasus pada akhir September masing-masing sebanyak 30,4 persen, 19,2 persen dan 21,4 persen. Sedangkan provinsi dengan tingkat kesembuhan paling tinggi seperti Kalimantan Utara, Maluku Utara dan Kalimantan Selatan masing-masing mengalami pertumbuhan kasus baru sebanyak 8,0 persen, 0,6 persen, dan 4,1 persen.

Ini menunjukkan daerah yang mampu menurunkan pertumbuhan kasus baru cenderung mendapatkan tingkat kesembuhan yang lebih tinggi. Sebaliknya, daerah yang tren kasus barunya meningkat, angka kesembuhannya menjadi turun. Contohnya adalah Jakarta, Sumatera Barat dan Kalimantan Timur.

Hanya saja data statistik ini tidak menjadi jaminan bahwa suatu daerah dengan pertumbuhan kasus rendah sehingga angka kesembuhannya tinggi mencerminkan kondisi riil. Sebab, sangat mungkin terdapat populasi yang terinfeksi tetapi tidak terdekteksi karena masih rendahnya tingkat tes swab/ PCR dan lemahnya strategi 3T (testing, tracing, dan treatment).

Indikasinya secara nasional adalah jumlah penduduk yang sudah menjalani tes PCR baru mencapai 2,2 juta orang atau setara 8.034 orang per satu juta penduduk. Jika data DKI Jakarta dikeluarkan dari perhitungan nasional, maka tingkat tes PCR nasional akan anjlok karena sebagian dari jumlah tes PCR tersebut disumbangkan oleh Provinsi DKI Jakarta. Tes PCR provinsi DKI Jakarta sendiri jumlahnya sudah mencapai 95.459 tes orang satu juta penduduk.

Kasus Baru Masih Melonjak

Meskipun data tingkat kesembuhan nasional membaik, jumlah kasus baru cenderung mengalami peningkatan. Sebagai contoh, pada bulan Juni rata-rata jumlah kasus baru setiap harinya mencapai 998 kasus. Kemudian terus mengalami peningkatan setiap bulannya dan melonjak drastis pada bulan September menjadi 3.740 kasus. Kini pada 7 hari pertama bulan Oktober, rata-rata kasus harian sudah mencapai 4.101 kasus. Hal ini membuat laju pertambahan kasus baru lebih tinggi dari pertambahan pasien yang mendapatkan kesembuhan dari Covid-19.

Jika pola seperti ini terus berlanjut, maka konsekuensinya pandemi berlangsung lebih lama. Semakin lama pandemi, maka semakin banyak penduduk yang terinfeksi Covid-19 yang terancam nyawanya. Pada bulan Juni, rata-rata kasus kematian karena Covid-19 mencapai 42 orang per harinya. Kemudian terus mengalami peningkatan hingga menjadi 111 kasus per harinya pada bulan September.

Kendalikan Mobilitas Penduduk

Membaiknya angka kesembuhan menjadi kurang berarti manakala kasus baru dan jumlah kematian absolut tidak mengalami penurunan. Sebab kita harus memandang keselamatan nyawa manusia adalah hal yang paling utama dibandingkan yang lain. Karena itu Indonesia harus serius dan memiliki strategi yang handal dalam penanganan pandemi Covid-19 ini.

Peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia tidak lepas dari strategi adaptasi kebiasaan baru atau new normal yang diterapkan oleh pemerintah. Pada dasarnya ini merupakan kebijakan pelongaran kegiatan ekonomi di tengah pandemi atau wabah Covid-19.

Strategi inilah yang memicu terjadinya pertumbuhan Covid-19 dan terus menanjaknya kurva pandemi. Sebab strategi ini mendorong mobilitas penduduk kembali seperti pada situasi normal seperti sebelum terjadinya wabah. Sedangkan salah satu poin penting dalam penanganan wabah adalah menjauhkan interaksi penduduk secara fisik dalam beberapa aktu agar tidak terjadi penularan yang masif.

Strategi yang mendorong mobilitas penduduk ini menjadi kontra produktif dengan upaya edukasi masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan dengan seperti mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak fisik. Akibatnya, satu sisi kita ingin meningkatkan kesembuhan di sisi lain kita terus memproduksi penyakit.

Di sinilah salah satu kunci penting dalam menurunkan kasus Covid-19, yaitu dengan mengendalikan mobilitas penduduk. Pemerintah sudah saatnya memberlakukan kebijakan pengendalian mobilitas penduduk. Strategi perlu dirancang dengan matang termasuk pemerintah harus menyiapkan paket-paket kompensasi bagi masyarakat dan dunia usaha ketika terjadi pengendalian mobilitas penduduk.

Tentu saja ini menimbulkan ongkos yang mahal. Namun dari sisi ekonomi biaya ini bisa dihitung dan dibandingkan dengan resiko yang harus ditangung oleh pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dalam skenario tanpa pengendalian mobilitas penduduk seperti sekarang ini. Karena itu strategi pengendalian mobilitas penduduk perlu dibuat secara matang dengan kadar yang berbeda untuk tiap daerah sesuai dengan kondisi pandeminya. []

Hidayatullah Muttaqin adalah dosen Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan dan anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 ULM.

 

 

 

 

INFO COVID-19