Seper Empat Angka Kematian Global Akibat Covid-19 Berasal dari Brazil, Rusia dan India

 

Oleh: Hidayatullah Muttaqin

 

20200529 Total Deaths

Sebagaimana saya tulis di blog saya https://muttaq.in sebelumnya bahwa pertumbuhan pandemi Covid-19 global telah bergeser ke Brazil, Rusia dan India. Selaras dengan meledaknya kasus terkonfirmasi positif di ketiga negara tersebut, jumlah angka kematian juga sudah mencapai lebih dari 10 persen kematian global, yaitu 37 ribu korban jiwa dari 364 ribu tingkat kematian dunia. 

20200530 New Deaths Daily

Angka kematian harian dari ketiga negara ini juga menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan, khususnya apa yang dialami oleh Brazil. Tren kematian harian Rusia dan India memang semakin naik tetapi dengan pertambahan yang cukup landai dan jauh di belakang angka kematian Brazil.

Jumlah kematian harian Brazil, Rusia dan India per 30 Mei mencapai lebih dari 23 persen kematian global. Padahal akhir bulan April yang lalu, jumlahnya baru di atas sembilan persen. Ini membuktikan, ketiga negara tersebut, khususnya Brazil menjadi motor penyumbang kematian globa akibat Covid-19. 

Perbedaan yang cukup mencolok dari Brazil, Rusia dan India kemungkinan besar berkaitan dengan perbedaan cara mereka dalam mengatasi penyebaran Covid-19. Sebagaimana kita ketahui Brazil tidak melakukan lockdown karena lebih mengedapankan kehidupan ekonomi. Tapi akibannya justru jumlah korban Covid-19 semakin deras seperti air terjun sedangkan perekonomian semakin terpuruk. Nyawa rakyat pada melayang sedangkan daya tahan ekonomi semakin rapuh.

Sementara itu, beberapa negara berkembang lainnya memiliki tren yang cukup buruk juga dan dikhawatirkan mengikuti jejak ketiiga negara tersebut. Peru, Chili, Meksiko, Pakistan, Bangladesh, dan Indonesia adalah negara-negara dengan jumlah kasus positif terpapar Covid-19 merentang dari 25 ribu hingga 150 ribu. Kebijakan tarik ulur penanganan Covid-19 dengan mengutamakan keberlangsungan kegiatan ekonomi tanpa desain yang matang dan mengabaikan peringatan para ahli khususnya para epidemiolog menjadi sumber ancaman baru pandemi ini. Wallahua’lam. [Muttaq.in]