Malapetaka itu Bermula dari Pikiran yang Meremehkan Covid-19

Oleh: Hidayatullah Muttaqin

Wabah virus corona atau Covid-19 sedang menghamtam umat manusia. Roda kehidupan seakan-akan harus berhenti dulu dan manusia dipaksa berdiam diri di dalam rumahnya. Betapa tidak per 3 April 2020 jumlah orang yang terpapar Covid-19 di seluruh belahan bumi telah mencapai satu juta. Sedangkan jumlah kematian sudah menembus angka 51 ribu jiwa. Korban sebanyak itu hanya dicapai selama 95 hari sejak kasus pertama ditemukan di Kota Wuhan China. Mengapa malapetaka ini terjadi?

Berdasarkan data yang diolah dari European Centre for Disease Prevention and Control, hanya diperlukan waktu satu bulan sejak 30 hari pertama untuk menggandakan jumlah manusia yang terpapar sebanyak hampir 14 kali lipat dan dua bulan untuk mencapai 108 kali lipat. Bahkan hanya diperlukan waktu selama lima hari sejak hari ke-90 untuk mencapai satu juta jiwa korban yang terpapar Covid-19. Dengan kata lain hanya diperlukan waktu lima hari untuk menambah sebanyak setengah dari jumlah korban yang positif terpapar pada hari ke-90.

Sementara itu, korban yang meninggal akibat Covid-19 dalam waktu dua bulan sejak 30 hari pertama berlipat hampir 231 kali sehingga pada hari ke-90 jumlahnya sebanyak 30 ribu jiwa lebih. Dan wabah ini hanya memerlukan waktu 5 hari untuk menambah jumlah korban lebih dari 21 ribu untuk mencapai 50 ribu angka kematian.

Sungguh wabah yang sedang menimpa umat manusia ini sangat memilukan. Dalam tiga hari terakhir saja (saat tulisan ini dibuat), lebih dari 4 ribu nyawa gugur setiap harinya. Grafik perkembangan jumlah korban yang positif terpapar virus corona di atas menunjukkan pada awalnya penularan Covid-19 berjalan lambat secara global dan itu pun hanya terjadi di China. Hingga hari ke-30 sejak wabah bermula, hanya terdapat 6067 orang yang positif terpapar Covid-19 dan 99 persen lebih kasusnya terjadi di China.

WHO baru menyatakan keadaan darurat global Covid-19 pada hari ke-32 atau pada tanggal 31 Maret setelah jumlah penduduk yang terkonfirmasi positif bertambah sebanyak 3759 orang dari hari ke-30. Pada saat itu jumlah kasus positif bertambah sebanyak 62 persen hanya dalam waktu dua hari dan 99 persen terjadi di China. Pada hari ke-60 atau setelah dua bulan wabah jumlah kasus positif mencapai 83 ribu dan sebanyak 95 persen kasusnya masih berasal dari China.

WHO kemudian menyatakan dunia sedang mengalami pandemi Covid-19 pada tanggal 11 Maret atau tepat pada hari ke-72 wabah. Pada saat itu jumlah penduduk dunia yang positif Covid-19 sudah mencapai 118 ribu orang dengan angka kematian sebanyak 4292 jiwa. Kontribusi China dalam jumlah orang yang positif Covid-19 pun sudah turun menjadi 68 persen. Pada hari ke-72 tersebut, tambahan jumlah penduduk China yang baru terinfeksi Covid-19 sudah menurun menjadi dua digit. Jumlah pasien baru Covid-19 di China sudah mulai menurun sejak hari ke 63 sedangkan dari belahan dunia lain semakin bertambah meskipun pertambahan masih lambat.

Setelah WHO menyatakan dunia sudah mengalami pandemi Covid-19, angka yang terinfeksi Covid-19 secara global merangkak naik dan mulai meledak sejak 16 Maret dengan pertumbuhan harian mencapai dua digit. Tidak sampai satu bulan sejak deklarasi pandemi global, penularan Covid-19 sudah mencapai angka satu juta penduduk dunia dengan jumlah kematian sebanyak 51 ribu jiwa.

Berdasarkan data perkembangkan jumlah kasus positif dan kematian akibat Covid-19 pada dua bulan pertama, masyarakat dunia sebenarnya memiliki kesempatan untuk mencegah terjadinya pandemi. Waktu dua bulan barangkali cukup untuk mengisolasi Covid-19 agar hanya terjadi di China dengan memutus transportasi dan mobilisasi penduduk yang berhubungan dengan China. Waktu dua bulan juga merupakan waktu yang sangat berharga bagi seluruh negara untuk mempersiapkan SDM, peralatan, infrastruktur kesehatan, dan dana yang diperlukan jika saja penularan virus mulai melebar ke luar China.

Terkesan para pemimpin dunia dan masyarakat global pada saat itu masih menganggap remeh wabah yang terjadi di China. Mungkin saja tersirat pikiran “itukan hanya terjadi di China dan tidak mungkin Covid-19 mendatangi negeri dan kampung kita”. Sekelas Presiden AS saja, Donald Trump tercatat berulangkali meremahkan bahaya penyebaran Covid-19 ini (CNN, 1 April 2020). Pikiran meremahkan wabah virus Corona ini juga menghinggapi para petinggi di Indonesia bahkan menjadi bahan candaan para pejabat.

Seruan untuk waspada dan melakukan pencegahan sebelum wabah masuk pun diabaikan oleh para politisi yang menjalankan pemerintahan. Early warning system yang sudah dinyalakan para ahli tidak digubris. “Nasi sudah jadi bubur”, kini virus corona yang diremehkan sudah terlajur memasuki hampir seluruh negara di dunia. Covid-19 dan dampaknya yang luar biasa terhadap perekonomian dan kehidupan membuat masyarakat dunia terkurung dan menangis di rumahnya sendiri. []