Penanganan Covid-19 di Indonesia, Taiwan dan Selandia Baru Dilihat dari Grafik

 

Was-was dan Malu Rasanya Melihat Grafik Covid-19 Indonesia, Taiwan, dan Selandia Baru

Mulai 1 Juni 2020, Pemerintah Indonesia mulai menerapkan New Normal secara bertahap di sebagian kabupaten dan kota. Melihat dan membandingkan kebijakan New Normal ini dengan pencabutan pembatasan di Taiwan (7 Juni) dan pengakhiran masa social distancing di Selandia Baru (8 Juni), rasanya bercampur antara was-was dan malu. 

Was-was, karena kurva kasus harian Covid-19 Indonesia belum menurun tetapi masih menanjak. Entah sampai kapan baru sampai ke puncaknya. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana pertambahan kasusnya di masyarakat ke depan. Bagaimana dampaknya terhadap kaum lemah, sebab golongan menengah ke bawah berpotensi paling terpapar Covid-19 di tengah semakin banyaknya orang yang turun ke jalan.

Saya malu, karena negara yang sukses dalam memerangi Covid-19 menerapkan kebijakan yang begitu ketat, tetapi menjamin kehidupan masyarakatnya. Kapan kebijakan pelonggaran mereka lakukan berdasarkan sains dan fakta, bukan kepentingan ekonomi apalagi kehendak sekelompok kecil pemilik modal.

Lihat grafik di halaman ini, bagaimana jauhnya kondisi dan capaian antara Indonesia dengan Taiwan dan Selandia Baru. Kedua negara tersebut tidak hanya berhasil melandaikan kurva akumulasi Covid-19 pada minggu ketiga sejak 10 kasus pertama (bukan hari pertama terjadinya kasus), tetapi berhasil mempertahankan kelandaian tersebut selama dua bulan. Artinya sejak minggu ketiga sudah terjadi penurunan kasus baru secara signifikan hingga tidak ada lagi kasus baru dan semua pasien Covid-19 sudah sembuh. Mereka pertahankan itu selama dua bulan. Ketika sudah tercapai baru mereka melakukan pelonggaran. Itu pun untuk Selandia Baru mereka masih menutup perbatasan negaranya dari mobilitas penduduk antar negara. 

Memang ketika terjadi wabah yang harus segera dilakukan oleh pemerintah adalah lockdown atau karantina. Hal ini sesuai perintah Nabi Muhammas SAW dalam HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaida, “… apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.”. Tetapi hal ini tidak dilakukan, pemerintah memilih opsi PSBB. Itu pun sudah sangat terlambat dan kemudian sudah dicabut pada sebagian besar wilayah.

Selayaknya para pemangku kebijakan di negeri ini dari pusat hingga daerah betul-betul mematuhi peringatan Nabi SAW mengenai syariat penanganan wabah tersebut. Sebagai pemimpin mereka juga harus mengingat hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, bahwa para pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat atas apa yang dia pimpin.   

Dalam kondisi seperti ini, kita sebagai anggota masyarakat, mau tidak mau harus aktif menjaga diri dan lingkungan supaya terhindar dari bahaya wabah. Di sampng juga kita perlu menjadikan wabah atau pandemi Covid-19 ini sebagai momentum untuk lebih dekat dan lebih beriman kepada Allah SWT, agar kita bisa memetik hikmah dan segala sesuatunya menjadi pahala. []

20200612 Indonesia, Taiwan, New Zealand