Ada apa di balik perang dagang AS-China?

Oleh Hidayatullah Muttaqin

Saat ini Amerika Serikat dan China terlibat perang dagang (trade war) yang sudah berlangsung satu tahun. Beberapa kali pembicaraan kedua belah pihak untuk mencapai titik temu perdamaian belum membuahkan hasil. Terakhir pada 22 Februari yang lalu negosiator AS-China mengadakan pembicaraan di Washington. Dua hari kemudian, yaitu pada 24 Februari, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa dia memperpanjang gencatan senjata perang dagang hingga 1 Maret untuk memberikan kesempatan dilanjutkannya pembicaraan keduabelah pihak (China Briefing, 25/2/2019). Apakah yang menjadi latar belakang Amerika Serikat melancarkan perang dagang terhadap China? Catatan saya ini mencoba mengulasnya secara ringkas.

Source: BBC

Perang dagang

Perang dagang (trade war) adalah suatu kondisi di mana dua negara atau lebih berusaha membuat kebijakan perdagangan internasional dengan tujuan untuk membuat negara lain mengalami kerugian ekonomi. Biasanya alat yang digunakan dalam perang dagang berupa pengenaan tarif dagang yang lebih besar atau melalui pembatasan kuota ekspor dan impor. Pengenaan tarif impor yang tinggi misalnya memiliki tujuan untuk mendorong harga barang dari negara pesaing menjadi lebih tinggi di dalam negeri sehingga masyarakat kemudian mengurangi konsumsinya dan beralih pada produk buatan dalam negeri.

Perang dagang AS-China dimulai ketika Komisi Perdagangan Internasional AS membuat laporan bahwa impor panel surya dan mesin cuci menyebabkan kerugian industri dalam negeri AS. Presiden Trump kemudian mengambil keputusan pengenaan tarif atas impor panel surya yang mencakup US$8,5 milyar dan US$1,8 milyar untuk mesin cuci. Tindakan ini kemudian dibalas oleh Pemerintah China dengan mengenakan tarif awal atas komoditi sorgum AS (PIIE, 21/2/2019).

Pada 22 Maret 2018, Presiden Trump menandatangani sebuah memorandum yang memerintahkan Perwakilan Dagang Amerika untuk melakukan penyelidikan apakah peraturan, kebijakan dan praktik dagang China bersifat diskriminatif dan merugikan serta membatasi perdagangan Amerika. Melalui memorandum tersebut, Trump juga akan membawa praktik dagang curang China ke Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO (The White House, 22/3/2018). Satu hari kemudian Presiden Trump mengenakan tarif 25% terhadap impor baja dan 10% untuk impor alumunium pada 23 Maret 2018. China membalas dengan mengenakan tarif sebesar 15-25% terhadap 128 produk impor dari Amerika.

Kedua negara besar tersebut akhirnya terlibat tindakan saling balas (tit-for-tat) dalam perang tarif impor sepanjang tahun 2018. Untuk setiap kebijakan pengenaan tambahan tarif oleh AS, akan dibalas tindakan serupa oleh China (China Briefing, 15/2/2019). Sejauh ini, Amerika telah mengenakan tarif baur terhadap produk impor China senilai US$253 milyar dan juga mengancam akan mengenakan tarif atas komoditi China lainnya senilai US$267 milyar. Sedangkan China telah mengenakan tarif impor balasan senilai US$130 milyar komoditi Amerika (BBC, 7/1/2019).

Motif perang dagang AS

Dalam pidatonya pada 22 Maret 2018, Presiden Trump mengemukakan bahwa AS menghadapi masalah defisit yang berketerusan dan cukup besar dalam perdagangan yaitu US$800 milyar dimana sebanyak US$504 milyar adalah defisit perdagangan dengan China. Amerika juga mengalami pencurian kekayaan intelektual yang bernilai ratusan milyar dollar. Trump menggambarkan kelicikan China dalam praktek perdagangan. Ia mencontohkan, ketika AS mengenakan tarif 2% terhadap mobil impor dari China, sebaliknya China mengenakan tarif sebesar 25% atas mobil yang diekspor Amerika ke China (The With House, 22/3/2018).

Trump mengemukakan akibat kecurangan China dalam perdagangan, AS telah kehilangan 60 ribu pabrik, 6 juta lapangan kerja. Sementara itu Wakil Presiden Mike Pence dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa negaranya harus menempatkan kepentingan AS, yaitu para pekerja dan lapangan kerja di tempat yang terdepan. Tidak hanya itu, AS juga harus melindungi teknologinya dari pencurian. Terkait pencurian teknologi ini, Utusan Perwakilan Perdagangan AS Lighthizer menyatakan teknologi adalah bagian penting AS yang tidak dapat dipisahkan dari ekonomi. Ada sekitar 44 juta orang AS yang bekerja di sektor pengetahuan teknologi tinggi. Inilah tulang punggung ekonomi AS (ibid).

Terkait upaya China menguasai teknologi Amerika diindikasikan oleh The U.S.-China Economic and Security Review Commission dalam Laporan Tahunan 2018. Menurut Komisi yang dibentuk oleh Kongres AS ini, sejak tahun 2017 paling sedikit ada 10 kali usaha China untuk mengakuisisi perusahan-perusahaan teknologi AS dengan nilai akuisisi sebanyak US$5,8 milyar. Namun upaya tersebut dibatalkan oleh Pemerintahan Trump dengan alasan resiko keamanan nasional.

Sementara itu Mourdoukoutas (2019) membenarkan bahwa alasan resmi AS melakukan perang dagang dengan China dilatarbelakangi oleh praktik dagang China yang tidak fair. China memanfaatkan keuntungan dari pasar AS yang terbuka dan di sisi lain ia menutup pasarnya sendiri untuk produk dan perusahaan dari AS. Strategi unfair China ini menyebabkan menyebabkan dampak negatif bagi industri dan lapangan kerja di AS.

Mourdoukoutas juga mengungkapkan sebenarnya AS memiliki motif yang lain dalam perang dagang ini, yaitu cepatnya perkembangan kemajuan teknologi China yang mulai mendominasi perkembangan teknologi digital dunia. China dalam Visi 2025-nya berusaha menjadi leader dalam teknologi 5G, artificial intelligent atau AI, dan robot global. Perkembangan dan visi China tersebut cukup mengkhawatirkan AS sebagai negara yang selama ini menjadi pemimpin dalam penguasaan dan inovasi teknologi.

Renee Mu sebagaimana dipetik Mourdoukoutas memaparkan China juga sedang melakukan perubahan strategi pertumbuhan ekonominya, yaitu dari produksi berbasis labor intensive dan export-driven ke consumption-driven economy. Strategi ini menurut Mu tidak bersahabat dengan AS. Ia memberikan contoh sederhana, bila seseorang katakanlah A menjual ponsel ke B dan A membeli sepatu dari B, maka keduanya senang. Tetapi jika B mulai menjual ponsel sebagaimana A, maka di antara keduanya terjadi kompetisi.

Kesimpulan

Perang dagang AS-China menunjukkan kedua kekuatan ekonomi dunia tersebut pada dasarnya sedang mempraktekkan proteksionisme. Ini menggambarkan bahwa liberalisasi ekonomi dan perdagangan internasional yang digaungkan AS diingkari oleh dirinya sendiri. Di sisi lain China mampu memanfaatkan celah pasar terbuka AS dengan strategi perdagangan yang tidak fair.

Selain praktik dagang yang curang, perang dagang yang dilakukan oleh AS juga dilatarbelakangi oleh perkembangan penguasaan teknologi China yang semakin maju dan mengancam posisi AS sebagai leader teknologi global. China juga merubah strategi pertumbuhan ekonominya yang bertumpu pada technology intensive dan konsumsi domestik. []